Implementasi P5 Ramadan Beban Baru atau Inovasi Belajar

Admin_sma28dkijkt/ Maret 17, 2026/ Belajar, Pendidikan

Kurikulum Merdeka membawa angin segar dalam dunia pendidikan melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang bertujuan mengasah karakter dan kreativitas siswa melalui aktivitas proyek di luar jam pelajaran kelas. Namun, ketika Implementasi P5 ini dilakukan secara intensif bertepatan dengan bulan suci Ramadan, muncul beragam tanggapan dari kalangan praktisi pendidikan dan para pelajar. Banyak yang mempertanyakan apakah penugasan proyek yang bersifat kolaboratif dan memakan banyak energi ini merupakan bentuk inovasi belajar yang tepat atau justru menjadi beban tambahan yang memberatkan siswa yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Dalam pelaksanaannya, Implementasi P5 selama Ramadan biasanya difokuskan pada tema kewirausahaan, gaya hidup berkelanjutan, atau bangunlah jiwa dan raganya dengan pendekatan religius. Sisi positifnya, siswa dapat mempraktikkan nilai-nilai Pancasila seperti gotong royong dan kemandirian dalam konteks kegiatan sosial atau keagamaan yang nyata. Namun, kendala muncul ketika koordinasi kelompok dan pengerjaan tugas fisik proyek dilakukan di siang hari saat kondisi tubuh siswa sedang lemah. Tanpa pengaturan jadwal yang bijak dari pihak sekolah, proyek ini rentan menjadi beban psikologis yang membuat siswa merasa kelelahan dan tidak bisa fokus menjalankan ibadah tarawih maupun tadarus dengan tenang.

Keberhasilan dari Implementasi P5 sangat bergantung pada kreativitas guru dalam mendesain proyek yang ringan namun tetap sarat makna. Guru dituntut untuk tidak memberikan tuntutan hasil yang terlalu muluk-muluk yang membutuhkan mobilitas tinggi bagi siswa di luar sekolah. Fokus proyek sebaiknya diarahkan pada aksi-aksi sederhana di lingkungan sekolah yang berkaitan dengan kepedulian sosial, seperti pengelolaan zakat atau pembuatan konten edukasi religi yang positif. Dengan cara ini, proyek tidak akan dirasakan sebagai beban administratif semata, melainkan sebagai bagian dari perjalanan spiritual siswa yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya selama bulan penuh berkah ini.

Dampak dari Implementasi P5 yang terlalu berat juga sering dikeluhkan oleh orang tua yang harus ikut membantu mencarikan bahan atau mendampingi anak mengerjakan proyek hingga malam hari. Perlu ada sosialisasi yang jelas mengenai tujuan proyek agar tidak terjadi kesalahpahaman antara pihak sekolah dan wali murid. Sekolah harus memastikan bahwa evaluasi P5 lebih menitikberatkan pada proses perubahan sikap dan karakter siswa, bukan hanya pada hasil akhir produk yang mewah. Jika dikelola dengan baik, proyek ini sebenarnya bisa menjadi sarana belajar yang jauh lebih menyenangkan dibandingkan duduk diam di dalam kelas mendengarkan ceramah guru selama berjam-jam saat sedang mengantuk karena puasa.

Share this Post